Resiko terhadap Clitoris

September 23, 2010 pukul 5:38 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

CLitoris
Ada banyak masyarakat dan tradisi budaya dan praktek-praktek yang berdampak negatif pada clitoris dan seksualitas wanita.

Tradisi yang pertama adalah perusakan bagian kemaluan wanita (FGM). Banyak  negara-negara di dunia, sejumlah negara-negara di mana ini terjadi adalah yang sedang berkembang sebanyak orang yang berimigrasi, para wanita diperlakukan untuk suatu praktek brutal dengan semua atau sebagian dari alat kelamin mereka dipotong. Dalam beberapa  hal vulva kemudian dijahit tertutup, meninggalkan hanya  hanya suatu lubang kecil untuk melewatkan air seni dan haid. Praktek ini terjadi di negara-negara industri seperti Amerika serikat, Inggris Raya, Perancis dan lain-lain, di antara beberapa populasi imigran. Sejumlah jaringan dihilangkan bervariasi dari hanya kerudung menutupi clitoris, sampai penghilangan seluruh clitoris, kedua labia minora dan bagian-bagian dari labia majora. Perusakan ini pada umumnya dilakukan pada gadis muda yang belum tahu apa yang sedang dilakukan pada mereka atau apa yang telah dilakukan  pada mereka. Beberapa wanita dewasa juga mencari-cari cara jika tidak dilakukan pada mereka sebagai seorang anak. Seperti merasakan hal yang negatif ke arah clitoris mereka dan  bagian luar kemaluan yang sangat kuat dan mereka menasa dipaksa untuk mengalami apa yang sepatutnya mereka alami dan menjadi seperti mereka.

Prosedur-prosedur ini sering dilakukan oleh orang-orang yang tidak terampil, biasanya wanita-wanita yang menyebabkan banyak luka pada anak-gadis dan para wanita, di samping untuk menghilangkan organ-organ yang dimaksud. Mutilasi/pengrusakan ini biasanya menggunakan  tempat yang sangat tidak bersih, seringkali  mengakibatkan beberapa infeksi dan kematian. Alat pemotong kotor yang sama yang mungkin digunakan pada beberapa gadis selama upacara yang sama mengakibatkan menyebaran penyakit seperti AIDS. Beberapa gadis yang dimutilasi oleh dokter-dokter yang terampil, yang mengurangi timbulnya komplikasi, tetapi masih merampas anak-gadis dari organ-organ luar seksualnya.

Praktek ini telah berlangsung selama ribuan tahun. Persentase besar dari wanita yang mereka sendiri telah dimutilasi, merasakan ini sesuatu yang normal, diinginkan, dan praktek yang perlu. Bahkan seorang ibu yang memilih untuk tidak memiliki gadis yang dimutilasi, perempuan tertua dari anggota keluarga kadang-kadang menculik anak dan memutilasinya tanpa persetujuan ibunya. Kepercayaan yang mendalam ini ditambahkan ke dalam pikiran-pikiran para wanita. Mereka tahu atau merasa gadis mereka, cucu perempuan, atau kemenakan perempuan tidak akan dapat menemukan seorang suami jika mereka tidak dimutilasi. Sesungguhnya kita mungkin benci praktek ini mungkin sekitar beberapa  tahun yang akan datang.

FGM mempunyai dampak yang besar atas kebahagiaan dan kesenangan seksual wanita, tetapi tidak lenyap. Keinginan wanita untuk seks dikendalikan oleh hormon, testosteron, maka selagi dia mempunyai kemampuan untuk menikmatinya dan bahkan terlibat didalamnya, sesungguhnya dapat dibatasi, dia masih bisa menginginkan seks. Jika vagina terbuka tidak dikelilingi oleh jaringan bekas luka dia bisa menikmati hubungan vaginal, dan mengalami orgasme. Jika lubang vagina  kecil dan meninggalkan bekas luka, hubungan dapat menyiksa. Beberapa wanita masih mempunyai daerah sensitif dimana clitoris mereka terletak, sementara wanita yang telah kehilangna clitoris mereka tidak mungkin orgasme seperti perempuan-perempuan yang mempunyai clitoris, mereka bisa menikmati seks sebanyaknya, jika mereka merasa mereka menjadi istri yang layak dengan memuaskan kebutuhan suami sebanyaknya, jika suami bahagia, istri bahagia, sementara kita bisa lihat mereka secara seksual lemah, adalah penting untuk disadari bahwa mereka tidak boleh melihat cara itu. Mereka melihat diri mereka seperti normal. Ini yang membuat semuanya sulit untuk mengakhiri praktek. Tidak sampai pendidikan formal menjangkau wanita-wanita ini mereka akan mengetahui cara lainnya tetapi dan cara aneh, ada wanita-wanita yang sangat terdidik yang mendukung praktek ini.


Tradisi kedua yang secara negatif berdampak pada clitoris adalah Clitoridectomy, pembedahan yang menghilangkan semua bagian clitoris. Sementara masih suatu bentuk dari FGM, itu berlangsung dirumah sakit modern di Amerika Serikat dan di tempat lain, bahkan di rumah sakit tempat anda. Beberapa gadis yang lahir dengan clitoris nyata, bayi lain yang dilahirkan dengan alat kelamin yang terlihat  kedua-duanya wanita dan pria, dan beberapa bayi pria mempunyai suatu penis kecil. Nampaknya sebagian besar dokter melihat bayi ini seperti cacat dan perlu perbaikan. Tidak banyak dari mereka yang tumbuh dan merasa cacat dan aneh.

Para dokter-dokter ini merasa jika “masalah” ini tidak dikoreksi lebih awal pada mereka akan selamanya secara emosional akan meninggalkan tanda. Sehingga maksud dokter yang baik ini memotong atau memangkas clitoris yang “besar”, dan   berubah menjadi hermaphrodit dan anak laki-laki dengan penis kecil menjadi anak gadis, alasan mereka mengubah menjadi gadis, adalah lebih mudah utnuk memotongnya daripada menjahitnya kembali. Prosedur-prosedur ini tidaklah dilarang untuk  anak, bahkan gadis telah kehilangan clitorisnya  tanpa persetujuan mereka, sekalipun gadis tersebut menyukai clitorisnya.

Banyak dari dokter ini yang menceritakan kepada orang tua bahwa pembedahan harus dilakukan atau menyakinkan orang tua, itu yang terbaik untuk anak dan bahwa anak akan hidup normal setelah itu. Dokter-dokter ini, biasanya pria, akan memberitahukan para orang tua bahwa gadis mereka akan mempunyai kehidupan seks yang  normal setelah itu meskipun tidak ada cara yang benar-benar memberitahukan apa dampak pembedahan yang akan berakibat pada kepekaan dari alat kelamin gadis. Jika seorang gadis tidak pernah mengenal hidup seperti apa dengan sebuah clitoris, bagaimana nantinya dia mengetahui dia adalah sama tanpa yang satu ini?

Kadang-kadang orang tua yang mencari-cari suatu koreksi pembedahan karena mereka merasa ada sesuatu yang salah dengan alat kelamin anak mereka, merasa takut kalau seseorang akan mengatakan sesuatu selagi mereka mengganti popok anaknya.

Jika putri anda, cucu perempuan, atau kemenakan perempuan yang lahir dengan suatu clitoris yang menonjol. Biarkan dia menjaga dan menikmatinya. Beritahukan mereka itu adalah milikinya, jadi saat atau jika dia menjadi khawatir dengan ukurannya, anda dapat meyakinkanya bahwa  hal itu sangatlah normal. Jika seorang gadis mempunyai dada besar kita jangan memintanya untuk mengecilkannya, tetapi jika dia mempunyai clitoris yang besar kita memintanya untuk menghilangkannya, suatu standar ganda yang menarik mengenai dua organ seksual perempuan yang sama. Suatu clitoris adalah tetap sebuah clitoris sekalipun itu kelihatan seperti sebuah penis, jika clitoris itu ada pada badan seorang perempuan.


Tradisi ketiga yang berdampak negatif  pada clitoris adalah Penyangkalan. Kebanyakan masyarakat menyangkal keberadaan clitoris gadis dan wanita. Kita melakukan suatu mental clitoridectomy pada mereka. Sedang mereka secara fisik masih mempunyai sebuah clitoris, mereka tidak sadar secara mental.

Kita memberitahu gadis mereka mempunyai satu “Vagina” ketika menamakan alat kelamin luar mereka. Kita tidak pernah menyebut kata-kata “vulva” atau “clitoris”. Dengan tidak memberitahu anak-gadis mereka bahwa mereka mempunyai suatu clitoris dan suatu vulva yang kita sangkal keberadaanya. Dengan menyebut segala sesuatu sebuah “vagina” kita tidak membuat mereka sadar akan keberadaan dari semua struktur-struktur genital lain. Jika seorang gadis menemukan struktur-struktur ini dia mungkin merasa aneh dan keyakinan yang berbeda dengan yang tidak pernah seorang pun yang memberitahu mereka. Vagina adalah suatu organ yang tersembunyi yang tidak dapat dilihat. Gadis seharusnya belajar kalau mereka mempunyai suatu vulva dan clitoris jauh sebelum mereka mendengar tentang vagina mereka. Untuk gadis muda, apa yang  tidak dapat mereka lihat dengan mata mereka sendiri memang tidak.

Sebagai bagian dari proses penyangkalan ini kita mengharapkan gadis dan wanita untuk menyembunyikan alat kelamin mereka. Kita mengkondisikan anak gadis menjadi malu atas alat kelamin mereka dan mengajar mereka untuk menyembunyikannya. Sedang kita mungkin tidak sadar dari banyak hal yang kita lakukan, kita masih melakukannya. Mengapa kita memaksa pada para gadis kecil memakai pakaian dalam ke tempat tidur dalam baju tidur dan piyama mereka? Pada malam musim panas kenapa kita meletakkan piyama pada mereka mengetahui mereka akan panas dan tidak dapat tidur? Mengapa kita tempatkan gadis dengan pakaian pendek sekalipun mengomeli mereka untuk membiarkan pakaian dalam mereka untuk dilihat? Kenapa kita bersikeras. Menyela mereka mengeksplorasi alat kelamin mereka, dan bersihkeras membiarkan mereka mengetahui kejengkelan kita dengan aktivitas ini? Kita menyembunyikan hal yang mempermalukan kita, dengan menyembunyikan alat kelamin gadis kita dari mereka dan kita sendiri, kita berkata kita dipermalukan oleh hal itu. Sementara kita tidak perlu menjadi telanjang untuk menaikkan kesehatan seksual putri kita, kita perlu hati-hati untuk tidak mengabarkan pesan yang salah pada mereka.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: